Logo Patembayan Jawadipa

Written by 10:34 pm Wedharan Views: 54

YAJNYA ATAU KORBAN

Dok. Progress PJD.

Yajnya atau korban adalah prinsip dasar semesta. Dimana dalam yajnya tersimpan makna mendalam terkait kerelaan atau keikhlasan. Kerelaan artinya mau berbagi tidak hanya mau menang sendiri, tidak hanya demi butuhnya sendiri. Keikhlasan artinya paham membalas budi, tahu diri dan tahu berterima kasih.

Ajaran Syiwa Buddha menekankan pentingnya yajnya sehingga dikenal dengan istilah Panca Yajnya atau Lima Korban.

  1. Dewa Yajnya, berkorban bagi para dewa atau makhluk suci. Para dewa secara tidak langsung telah ikut bekerja menjaga perputaran semesta, memelihata semesta, menyeimbangkan semesta. Selayaknya para saintis murni yang bekerja bagi peningkatan ilmu pengetahuan, bagi keselarasan semesta agar menjadi tempat yang nyaman, serta memudahkan kehidupan manusia. Oleh karenanya, kita wajib melakukan yajnya atau korban kepada para dewa dengan mempersembahkan sesajian khusus, mantra khusus, yantra khusus yang mampu menyenangkan para dewa. Para dewa bekerja untuk semesta dan kita memberikan balasan dengan Dewa Yajnya.
  2. Rsi Yajnya, berkorban bagi para guru dan ajaran kebenaran. Para guru telah bekerja memberikan pencerdasan dan peningkatan pengetahuan lahiriah atau bathiniah bagi kita. Maka sudah selayaknya kita beryajnya bagi para guru dan bagi ajaran-ajaran kebenaran dengan menyisihkan sedikit sesari bagi guru dan dana punya bagi ajaran kebenaran. Inilah Rsi Yajnya.
  3. Pitri Yajnya, berkorban bagi leluhur. Para leluhur telah memiliki andil melahirkan kita di dunia. Bahkan leluhur terdekat, orang tua kita telah membesarkan, membiayai dan menyerahkan kehidupannya bagi kita tanpa kenal lelah. Maka sudah selayaknya kita beryajnya kepada leluhur dengan menghaturkan sesaji bagi yang sudah meninggal atau merawat, menyisihkan dana, tenaga, dan waktu bagi orang tua yang masih hidup. Inilah Pitri Yajnya.
  4. Manusa Yajnya, berkorban bagi sesama manusia. Yaitu tahu diri, tahu balas budi, menyisihkan dana untuk bersedekah bagi sesama manusia. Jangan maunya menang sendiri. Ditolong tapi lupa berterima kasih. Hanya butuhnya sendiri. Hanya mau urusannya sendiri. Berkorban bagi sesama manusia inilah Manusa Yajnya.
  5. Bhuta Yajnya, berkorban bagi makhluk-makhluk tak kasat mata, makhluk berkelahiran rendah dibawah manusia. Mereka juga punya andil menjaga wilayah yg kita tempati. Ikut membantu agar wilayah menjadi stabil dan nyaman ditinggali. Oleh karenanya kita juga wajib memberikan korban bagi mereka dengan memberikan sesajian di hari-hari tertentu sebagai bentuk terima kasih. Inilah Bhuta Yajnya.

Yajnya mengajarkan manusia untuk berterima kasih, mengajarkan kerelaan untuk berbagi, mengajarkan untuk saling membantu, mengajarkan untuk tahu diri, mengajarkan kerendahan hati.

Yajnya menghindari watak tidak tahu berterima kasih, pelit, mau butuhnya sendiri, maunya gratisan walau menyusahkan orang. Watak-watak yang menjadi penghalang besar bagi laku spiritual.

Manusia yang hanya mau menerima dan hanya meminta tanpa mau beryajnya atau berkorban, maka dia sama dengan pencuri.

Anda menjalankan Panca Yajnya (Lima korban) ini sama saja memuja Tuhan. Sama saja berkorban bagi Tuhan. Karena Tuhan melekat dan menyatu dalam Semesta.

Persembahan korban kepada Dewa, Rsi, Pitri, Manusia dan Bhuta sama saja Anda mempersembahkan korban kepada Tuhan.

Ki Damar Shashangka.
02 Juli 2025

Visited 54 times, 1 visit(s) today
Share

Last modified: 29 Juli 2025