Logo Patembayan Jawadipa

Written by 2:01 am Wedharan Views: 9

Sadulur Papat Kalima Pancer

Dok. Progress PJD.

Di bawah ini merupakan penjelasaan secara lengkap tentang apa yang disebut Sadulur Papat Kalima Pancer sesuai Kawruh Jawa asli. Sadulur Papat berarti Empat Saudara, Kalima Pancêr berarti Yang kelima Pusat. Menurut Kawruh Jawa asli apakah saudara manusia hanya ada empat sosok saja? Sebenarnya tidak. Saudara manusia sesungguhnya ada tujuh sosok, yaitu :

  1. Wawayanganing Atma
  2. Mar
  3. Marti
  4. Kakang kawah
  5. Adhi ari-ari
  6. Gêtih
  7. Pusêr

Yang kedelapan adalah Pancêr atau Pusat, yang tak lain adalah Ruh manusia, dan ini tidak termasuk dalam hitungan.
Penjelasan secara lengkap adalah sebagai berikut.

1.) Wawayanganing Atma
Adalah bayangan Sanghyang Atma, yaitu Percikan Sanghyang Acintya (Tuhan) yang telah kehilangan kemuliaannya, yang sudah terjatuh pada kekotoran, yang sudah terselubungi, tertabiri oleh Maya atau Illusi duniawi. Wawayanganing Atma sendiri lahir ketika Sanghyang Atma sudah bersiap-siap untuk menghidupi Suksma (Jiwa) manusia. Wawayanganing Atma inilah yang kerap disalahpahami sebagai Qarin atau Jin Pendamping oleh ajaran Islam. Juga kerap disalahpahami sebagai Guardian Angel oleh masyarakat barat. Sesungguhnya Qarin tersebut bukan makhluk lain yang hadir dan mendampingi manusia, dia sebenarnya adalah bayangan dari Sanghyang Atma, sesuatu yang tidak terpisah dari diri manusia itu sendiri. Wawayanganing Atma memiliki kekuatan alamiah untuk melindungi diri manusia dari segala macam marabahaya.

2.) Mar
Ketika Sanghyang Atma mulai merasuki Suksma (Jiwa), muncullah dua macam cahaya: Merah dan Putih yang benderang. Cahaya Putih benderang ini adalah cerminan dari kekuatan dan ketegasan Atma disebut Mar, yang berarti menyebar. Ini adalah unsur maskulin pada diri manusia.

3.) Marti
Sedangkan cahaya Merah benderang adalah cerminan dari kelembutan dan keindahan Atma disebut Marti, yang berarti memberikan warta. Ini adalah unsur feminin dalam diri manusia.

Begitu Sanghyang Atma telah menghidupi Suksma (Jiwa) muncullah
4.) Cahaya Putih redup, yang lantas disebut Kakang Kawah.
5.) Cahaya Kuning redup, yang lantas disebut Adhi Ari-Ari.
6.) Cahaya Merah redup, yang lantas disebut Gêtih.
7.) Cahaya Hitam redup, yang lantas disebut Pusêr.

Empat cahaya ini tak lain adalah:

  1. Kakang Kawah sebenarnya adalah Kesadaran, unsur dari Suksma (Jiwa) yang memampukan jiwa menyadari keberadaan diri, ruang dan waktu.
  2. Adhi Ari-Ari sebenarnya adalah Pikiran, unsur dari Suksma (Jiwa) yang memunculkan segala macam keliaran jiwa;
  3. Gêtih sebenarnya adalah Perasaan, unsur dari Suksma (Jiwa) yang memunculkan segala gelora hasrat jiwa.
  4. Pusêr sebenarnya adalah Ingatan, unsur dari Suksma (Jiwa) yang merupakan fondasi jiwa untuk mampu hidup di dunia. Di sini segala memori dasar tersimpan, seperti keinginan untuk makan, minum, tidur, ketakutan, kecemasan; juga menyimpan segala macam pengalaman manusia, baik yang pahit maupun yang manis.

Empat macam kecenderungan Suksma (Jiwa) manusia ini disebut sadulur kang lair saka marga hina, yang berarti saudara yang lahir lewat jalan hina atau kemaluan ibu. Disebut demikian karena menandai sempurnanya keberadaan Kesadaran, Pikiran, Ingatan dan Perasaan jabang bayi maka akan muncul empat macam pertanda yang keluar lewat kemaluan ibu.

Urut-urutan munculnya pertanda nyata tersebut adalah sebagai berikut. Mula pertama Kakang Kawah atau air ketuban yang keluar terlebih dahulu. Dia muncul saat jabang bayi hendak terlahirkan ke dunia. Karena kemunculannya mendahului sang jabang bayi, maka disebut Kakang Kawah, yang berarti kakak yang bentuknya bagaikan cairan kawah gunung berapi. Begitu Kakang Kawah muncul, maka telah sempurna Kesadaran sang jabang bayi tercipta.

Lalu menyusul sosok jabang bayi keluar dari kemaluan ibu. Tidak berselang lama dengan keluarnya jabang bayi, keluar pula Gêtih. Gêtih berarti darah. Begitu Gêtih muncul, maka telah sempurna Pikiran sang jabang bayi tercipta. Lantas menyusul keluar usus yang melekat pada pusar jabang bayi disebut Pusêr. Pusêr berarti pusar. Begitu Pusêr muncul, maka telah sempurna Ingatan sang jabang bayi tercipta

Dan yang keluar terakhir kali adalah Adhi Ari-Ari atau plasenta. Plasenta keluar untuk terakhir kali sehingga disebut Adhi Ari-Ari. Adhi berarti adik, ari-ari berarti plasenta. Begitu Adhi Ari-Ari muncul, maka telah sempurna Perasaan sang jabang bayi tercipta. Dengan demikian lengkap sudah empat saudara manusia yaitu Kakang Kawah, Adhi Ari-Ari, Gêtih, dan Pusêr telah terlahirkan ke dunia lewat marga hina atau kemaluan ibu mengiringi kelahiran sang jabang bayi.

Masih ada saudara sang jabang bayi yang ikut lahir lewat marga hina atau kemaluan ibu, namun bentuknya tidak terlihat. Kelahirannya bersamaan waktu dengan lahirnya sang jabang bayi. Kelahiran empat saudara yang lain terjadi secara berurutan, namun saudara yang satu ini lahirnya bersamaan waktu tanpa ada jeda sedetik pun. Oleh karenanya disebut sadulur kang lair barêng sadina atau saudara yang lahir bersamaan waktu dalam satu hari. Siapakah dia?

Tak lain adalah Wawayanganing Atma, bayangan Sanghyang Atma.

Ada lagi saudara yang tidak ikut terlahirkan lewat marga hina. Mereka adalah Mar dan Marti. Karenanya mereka disebut sadulur kang nora lair saka marga hina atau saudara yang tidak ikut terlahirkan lewat marga hina. Lengkap sudah tujuh saudara manusia mendampingi manusia hadir di dunia.

Ada penyebutan lain bagi ketujuh saudara manusia ini yaitu sadulur kang karawatan sarta sadulur kang nora karawatan, yang artinya saudara yang terawat dan saudara yang tidak terawat.

Sadulur kang karawatan atau saudara yang terawat adalah Kakang Kawah, Adhi Ari-Ari, Gêtih, dan Pusêr. Kakang Kawah (ketuban), Adhi Ari-Ari (plasenta), Gêtih (darah), dan Pusêr (pusar) akan ikut mendapat perawatan dari dukun bayi atau orangtua bayi. Ketuban dan darah akan dibersihkan. Pusar akan dipotong dan biasanya tersisa sedikit pada perut jabang bayi, lalu plasenta akan ditanam dengan menggunakan upacara sederhana. Tanah tempat menanam plasenta akan dijaga dengan diberi pembatas khusus dan diberi pelita hingga usia jabang bayi mencapai tiga puluh lima hari atau sêlapan dina. Sedangkan sisa usus pada perut jabang bayi, ketika terlepas, akan disimpan oleh kedua orangtuanya. Peristiwa ini disebut puput pusêr atau pupak pusêr. Sisa usus dari pusar ini berguna ketika jabang bayi nanti menderita sakit. Dengan air rendaman sisa usus dari pusar tersebut, jabang bayi akan cepat sembuh dari sakitnya.

Sedangkan yang disebut sadulur kang nora karawatan, atau saudara yang tidak terawat, tak lain adalah Mar, Marti, dan Wawayanganing Atma. Mereka ini tidak mendapat perawatan karena keberadaannya tidak terlihat alias gaib.

Ketujuh saudara manusia berikut manusia itu sendiri memiliki titik Pancêr atau titik Pusat atau titik Central, yaitu Sanghyang Atma atau Ruh manusia.

Sebait mantra khusus di bawah ini sudah cukup untuk menggambarkan secara keseluruhan saudara manusia tersebut.

Mar, Marti, Kakang kawah, Adhi ari-ari, Gêtih, Pusêr. Sadulurku Papat Kalima Pancêr. Kang karawatan lan kang nora karawatan. Kang lair saka marga hina lan kang nora lair saka marga hina sarta sadulurku kang lair barêng sadina kabeh. Bapanta ana ngarêp, Ibunta ana mburi, payo…. (Diisi keperluannya).

Artinya : Mar, Marti, Kakang Kawah, Adhi Ari-Ari, Gêtih, Pusêr. Empat Saudaraku yang Kelima Pusat (Ruh). Yang terawat dan tidak terawat. Yang lahir dari marga hina dan yang tidak lahir dari marga hina, serta saudaraku yang lahir bersamaan waktu dalam sehari (Wawayanganing Atma). Bapa ada di depan, Ibu ada di belakang, ayo…. (Diisi keperluannya).

Inilah Kawruh Jawa asli yang lantas pada masa akhir Majapahit diambil oleh Walisanga dan diramu menjadi bagian dari Ilmu Kêjawen, yaitu Kawruh Jawa yang sudah dicampur dengan ajaran Islam Tassawuf. Pelopornya adalah Sunan Ngampel dan getol disebar luaskan oleh Sunan Kalijaga. Kawruh yang saya tulis di atas sama sekali tidak tercampur dengan ajaran Islam Tassawuf, jadi bukan Ilmu Kêjawen. Kawruh yang saya tulis di atas masih murni Kawruh Jawa asli.

Berdasar Kidung Mar Marti. Sesuai pakem dan rujukan. Tidak ngarang.

Damar Shashangka.

Bogor, 23 Maret 2019.

Visited 9 times, 9 visit(s) today
Share

Last modified: 2 Februari 2026